Harmoni Sains dan Pendidikan Islam dalam Pembelajaran Abad 21: Melawan Gagasan Dikotomi Ilmu

Authors

  • Nita Yuli Astuti UIN Walisongo Semarang

DOI:

https://doi.org/10.31958/atjpi.v6i2.16229

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara sains dan Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam pembelajaran abad ke-21 sebagai upaya strategis melawan gagasan dikotomi ilmu. Pendekatan penelitian kepustakaan dengan metode deskriptif kualitatif digunakan untuk mengkaji berbagai sumber terkini (jurnal, buku, dan penelitian) dalam sepuluh tahun terakhir. Temuan menunjukkan bahwa dikotomi ilmu berpotensi melahirkan fragmentasi pengetahuan, menghambat pemahaman holistik terhadap realitas, serta melemahkan peran agama dalam menjawab tantangan kontemporer. Padahal, memahami ayat-ayat Allah (ayat kauniyah) memerlukan penguasaan ilmu sains, sebagaimana tercermin dalam eksplorasi alam semesta yang menjadi bagian dari ibadah intelektual. Untuk mengatasi hal ini, universitas perlu mengintegrasikan paradigma unity of sciences melalui pengembangan kurikulum PAI yang holistik dan integratif, yang menyatukan dimensi kognitif, afektif, psikomotorik, dan spiritual, serta mengadopsi empat pilar pembelajaran abad ke-21: berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi. Implementasinya menuntut dosen dan guru dibekali pelatihan pedagogi holistik serta kemampuan mendesain pembelajaran berbasis proyek, kontekstual, dan reflektif agar nilai-nilai Islam tidak hanya dipahami secara teoretis, tetapi juga diwujudkan dalam praktik sains. Harmonisasi antara PAI dan sains bersifat epistemologis, bukan sekadar metodologis, sebagaimana tercermin dalam model pengembangan keilmuan di UIN Walisongo (Unity of Sciences), UIN Maliki Malang (Pohon Ilmu), dan UIN Sunan Kalijaga (Jaring Laba-laba Ilmu). Kontribusi penelitian ini terletak pada penguatan kerangka integrasi ilmu yang relevan dengan tantangan pendidikan kontemporer dan penguatan identitas keilmuan Islam yang utuh.

Downloads

Published

2025-12-28

Issue

Section

Articles